Apa itu DDF? / DDF dalam Praktik

DDF dalam PraktikPembentukan, kebebasan, dan kerusakan

Jika Kejahatan Dijelaskan Terlalu Jauh ke Belakang, Kita Menyalahkan Orang yang Salah

Jawaban DDF tentang kejahatan moral pertama—dan mengapa kesalahan harus berhenti di tempat kerusakan bermula

Jika suatu sebab sebelumnya sudah menentukan seluruh bentuk jahat sebuah tindakan, sebab itu tidak menjelaskan mengapa pelakunya layak dipersalahkan. Ia hanya memindahkan sumber kejahatan dan kesalahan lebih jauh ke belakang.

Tanyakan mengapa seseorang melakukan kekejaman, dan biasanya kita akan mendapat sebuah riwayat.

Ayahnya kerap mempermalukannya. Teman-temannya memberi penghargaan pada sikap merendahkan orang lain. Lembaganya mengajarkan bahwa kelemahan pantas dihukum. Ia sedang takut, lelah, iri, malu, kecanduan, ambisius, dan marah. Seorang pemimpin memberi izin. Sebuah dusta membuat korban tampak berbahaya. Bertahun-tahun pilihan yang lebih kecil melatih respons yang akhirnya muncul.

Semua itu mungkin benar.

Sekarang sempurnakan penjelasan tersebut. Bayangkan bahwa keadaan-keadaan sebelumnya bukan sekadar tekanan. Semuanya sudah cukup untuk menghasilkan niat yang persis ini, pada saat yang persis ini, tepat sebagai tindakan kejam yang patut dipersalahkan. Jika seluruh keadaan sebelumnya sudah diberikan, tidak ada tanggapan lain yang sungguh mungkin.

Lalu tanyakan sekali lagi:

Mengapa ia yang dipersalahkan?

Jika sebab-sebab sebelumnya sudah memasok seluruh bentuk moral tindakan itu, sebab-sebab tersebut tidak hanya menjelaskan si pendosa. Tampaknya merekalah yang melakukan pekerjaan penentu yang membuat kita menyalahkan orang itu. Pertanyaan tentang sumber telah berpindah ke hulu.

Inilah salah satu persoalan tersulit dalam pemikiran Kristen, sebab kekristenan menolak tiga jalan keluar yang mudah.

Kekristenan tidak dapat berkata bahwa kejahatan adalah zat mandiri yang menyerbu ciptaan Allah. Hanya ada satu Pencipta, dan apa yang Ia ciptakan itu baik.

Kekristenan juga tidak dapat berkata bahwa sesekali Allah berhenti menopang si pendosa agar makhluk itu dapat bertindak secara mandiri. Tidak ada makhluk yang memiliki bahkan sedetik pun kuasa yang berdiri sendiri.

Dan kekristenan tidak dapat berkata bahwa kesalahan hanyalah ilusi. Kitab Suci menyapa, memperingatkan, menghakimi, mengampuni, mengubah, dan memanggil pribadi-pribadi untuk bertobat.

Jadi, dari manakah kejahatan moral yang pertama berasal?

Batasnya adalah ini: jika sebab sebelumnya sudah menentukan seluruh hal yang membuat sebuah tindakan patut dipersalahkan, sebab itulah yang memasok kerusakan yang menjadi dasar kesalahan.

Kalimat itu tidak menyelesaikan masalah kejahatan dengan menjadikannya misteri.

Kalimat itu menunjukkan titik ketika jenis penjelasan tertentu justru menghancurkan hal yang hendak dijelaskannya.

Kejahatan Pertama Tidak Dapat Diwarisi

Kejahatan yang muncul kemudian sering mudah ditelusuri.

Seorang anak mewarisi kosakata penghinaan. Seorang penguasa mewarisi perangkat kekerasan. Sebuah gereja mewarisi arsip yang disegel, kebungkaman yang diberi imbalan, dan teologi yang membuat koreksi terdengar seperti pemberontakan. Kebiasaan yang dilatih bertahun-tahun mengubah apa yang diperhatikan, diinginkan, dan sanggup ditolak seseorang ketika berada di bawah tekanan.

Kerusakan menjadi sejarah kausal. Begitu seseorang berdusta, dusta itu dapat melatih orang berikutnya. Begitu kekerasan menata ulang sebuah rumah tangga, rasa takut masuk ke dalam setiap pilihan sesudahnya. Begitu sebuah lembaga memberi imbalan pada penutupan aib, orang-orang yang masuk ke dalamnya tidak lagi memulai dari medan yang netral.

Namun semua itu tidak dapat menjelaskan kejahatan yang pertama.

Jika perusak pertama dirusak oleh pengaruh buruk yang lebih dahulu ada, ia bukan lagi yang pertama. Jika pengaruh itu sendiri sudah jahat, kita harus bertanya apa yang merusaknya. Rantai mundur itu terus berjalan. Jika Allah secara positif merancang cacat tersebut, kejahatan telah ditempatkan di dalam arsitektur ciptaan yang baik dan kesalahan berpindah kepada Sang Perancang.

Kejahatan pertama tidak mungkin berupa zat jahat, rancangan yang cacat, atau pendidikan buruk yang diwariskan.

Kejahatan itu harus bermula di dalam makhluk yang baik, memiliki kehendak, tetapi masih dapat berubah.

Kemampuan untuk berubah bukanlah kejahatan. Makhluk bukan Allah; ia menerima hidup, kuasa, pengetahuan, dan masa depan. Ia dapat bertumbuh. Ia dapat mempertimbangkan. Ia dapat tetap melekat dalam kepercayaan. Kemungkinan untuk menyimpang termasuk dalam keterbukaan makhluk yang terbatas, tetapi kemungkinan bukanlah sebab yang merusak. Tidak ada sesuatu pun dalam keadaan sebagai makhluk yang membuat pemberontakan menjadi keharusan.

Kejahatan pertama bermula ketika makhluk gagal menata secara benar suatu kuasa baik yang sungguh dimilikinya.

Kejahatan Tidak Memerlukan Objek yang Jahat

Hal ini menjadi lebih jelas ketika kita berhenti membayangkan kejahatan sebagai benda gelap yang entah bagaimana harus diinginkan oleh kehendak.

Objeknya bisa saja baik.

Pengetahuan itu baik. Kuasa dapat menjadi baik. Keindahan, pemeliharaan diri, kewenangan, kenikmatan, rasa memiliki, dan keserupaan dengan Allah adalah hal-hal yang baik. Kejahatan terjadi ketika suatu kebaikan nyata dijadikan tujuan tertinggi, diperlakukan sebagai milik yang mandiri, direbut sebelum waktunya, dipisahkan dari sumbernya, atau diraih dengan melawan persekutuan yang memberi bentuk sejatinya.

Pencuri tidak mencintai ketiadaan. Ia mencintai kepemilikan tanpa keadilan. Pendusta mencintai rasa aman, kedudukan, kendali, atau kemenangan tanpa kebenaran. Tiran mencintai ketertiban tanpa mengasihi sesama. Godaan di Eden berhasil justru karena hikmat dan keserupaan dengan Allah bukanlah hal-hal yang buruk.

Karena itu, kejahatan tidak menuntut Allah untuk menciptakan suatu bahan yang secara positif jahat.

Kemampuannya baik. Objeknya mungkin baik. Tindakannya memiliki realitas positif: akal memahami, kehendak bergerak, tubuh bertindak, kata-kata diucapkan. Allah terus memberi keberadaan kepada makhluk dan kepada setiap kuasa positifnya.

Yang hilang adalah tatanan yang seharusnya menghubungkan semua kebaikan itu: kebenaran kepada sumbernya, kuasa kepada kasih, hasrat kepada hikmat, tindakan kepada persekutuan.

Inilah yang oleh tradisi Kristen disebut privatio boni: tidak hadirnya kebaikan yang seharusnya ada. Kejahatan bukan khayalan. Pengkhianatan itu nyata, korban sungguh terluka, dan si pendosa sungguh bersalah. Tetapi kejahatan tidak memiliki keberadaan tandingan. Ia adalah kuasa baik yang dijalankan di dalam relasi yang seharusnya tidak ada.

Allah Menopang Tindakan Tanpa Turut Memiliki Cacatnya

Pembedaan ini menjawab pertanyaan berbahaya lainnya.

Jika Allah menopang segala sesuatu, apakah Ia juga menopang si pendosa ketika ia berdosa?

Ya. Jika tidak, makhluk itu akan lenyap.

Apakah itu menjadikan Allah pencipta niat jahat?

Tidak—kecuali menopang keberadaan makhluk dan menentukan secara moral niatnya yang cacat dianggap sebagai tindakan yang sama.

Keduanya tidak sama.

Allah memberi makhluk, kuasa, objek, pertimbangan, gerakan, dan setiap realitas positif. Makhluklah yang menghasilkan kegagalan relasional yang patut dipersalahkan: kebaikan ini melawan kebenaran itu, kuasa ini melawan sesama itu, hasrat ini melawan Allah. Dalam satu sejarah yang sama, tindakan Allah dan tindakan makhluk tetap berbeda.

Ini berarti Allah dan makhluk sama-sama sungguh bertindak, tetapi bukan sebagai dua pihak setara yang mengerjakan hal yang sama. Para teolog menyebutnya tindakan bersama yang asimetris. Tindakan Allah memberi keberadaan kepada makhluk dan tindakannya. Penyalahgunaan oleh makhluk—hilangnya tatanan baik yang seharusnya ada—bukan benda kedua yang harus dibuat Allah agar dosa dapat terjadi.

Dengan demikian, kedaulatan ilahi dan tanggung jawab makhluk dapat sama-sama nyata tanpa salah satunya berubah menjadi slogan.

Keberatan Terkuat Berkata: “Itu Tetap Pilihannya Sendiri”

Seorang kompatibilis—orang yang percaya bahwa suatu tindakan dapat sepenuhnya ditentukan oleh sebab sebelumnya dan tetap menjadi pilihan bebas kita—akan mengajukan keberatan di sini.

Tanggung jawab, katanya, tidak menuntut seseorang menjadi sumber terakhir dari karakter dan hasratnya. Yang penting ialah tindakan itu lahir melalui alasan, nilai, pertimbangan, dan kehendaknya sendiri—tanpa kuasa dari luar melewati kehidupan batinnya. Sebuah tindakan dapat sepenuhnya ditentukan dan tetap menjadi tindakan saya, sebab sayalah yang menginginkannya, memahaminya, dan bertindak dari siapa diri saya.

Keberatan itu jauh lebih kuat daripada sekadar berkata bahwa paksaan tidak pernah penting. Ia benar ketika membedakan ancaman yang menggerakkan tangan seseorang dari tindakan yang lahir melalui hasrat yang sudah menetap.

Jawaban DDF berpusat pada kata sendiri.

Dalam kerusakan yang terjadi kemudian, suatu hasrat dapat sungguh menjadi milik saya sekalipun sejarah panjang turut membentuknya. Saya mungkin telah membenarkannya, melatihnya, melindunginya dari koreksi, dan menjadikannya makin mencerminkan karakter saya. Di dalam sejarah pembentukan seperti itu, tanggung jawab dapat nyata dan sebanding.

Penyimpangan pertama tidak memiliki sejarah rusak sebelumnya. Jika sebuah sebab terdahulu yang tidak bersalah sepenuhnya menentukan karakter, alasan, hasrat, dan persetujuan pelaku pertama sehingga susunan yang salah ini tidak mungkin dihindari, mengatakan bahwa cacat itu muncul melalui psikologi “miliknya sendiri” hanya menunjukkan lokasi terdekatnya. Itu belum menunjukkan sumber yang patut dipersalahkan. Pertanyaan moral yang menentukan tetap ada: mengapa alasan-alasan ini berkuasa dalam tatanan yang cacat ini, bukan dalam kesetiaan?

Teologi Reformed atau uraian klasik tentang tindakan Allah bersama makhluk dapat menjawab bahwa Allah dan makhluk menghendaki peristiwa yang sama dengan maksud berbeda: Allah mengarahkannya kepada tujuan suci, makhluk kepada tujuan jahat. DDF menerima bahwa satu peristiwa dapat memuat maksud yang berbeda. Masalah kejahatan pertama berada satu langkah lebih awal. Jika penetapan ilahi juga membuat niat jahat makhluk tidak terelakkan tepat sebagai niat jahat, pembedaan maksud belum menunjukkan mengapa cacat itu berasal dari makhluk dan bukan dari ketetapan yang tinggal dijalankannya.

Karena itu DDF mengajukan pertanyaan yang lebih ketat tentang sumbernya. Pada saat alasan, kuasa, dan objek yang baik disusun menjadi tatanan jahat yang ini, apakah orang tersebut sungguh menentukan susunannya, ataukah sebab sebelumnya sudah menentukannya? Jika orang itu benar-benar dapat mengenali apa yang seharusnya dilakukan dan memberi jawaban yang berbeda, sumber kerusakan itu sungguh berada dalam dirinya. Jika tidak, kemampuannya menanggapi alasan hanya menjelaskan jalur munculnya kerusakan, bukan mengapa kesalahan berhenti padanya.

Ini adalah perbedaan pendapat yang nyata, bukan permainan kata. Kaum kompatibilis dapat menyangkal bahwa kesalahan moral membutuhkan sumber seperti ini. Tugas DDF adalah menunjukkan mengapa kesalahan atas kerusakan yang pertama menuntut lebih dari sekadar menunjuk tempat terdekat di mana kerusakan itu muncul. Tugas kaum kompatibilis adalah menunjukkan mengapa seseorang patut disalahkan atas kerusakan yang sudah sepenuhnya ditentukan oleh sebab sebelumnya yang tidak bersalah.

Inilah alasan bagi syarat yang lebih ketat itu. Menyalahkan secara moral bukan sekadar memberi nama kepada penyebab terdekat. Kita bertanya kepada orang ini mengapa ia memakai sesuatu yang baik untuk melawan kebenaran, padahal ia seharusnya setia. Sekarang bayangkan seorang manipulator sempurna yang menanamkan prioritas, cara berpikir, dan hasrat seseorang dengan begitu lengkap sehingga pengkhianatan pasti terjadi melalui pertimbangannya sendiri. Pada saat ia bertindak, tidak ada bagian pikirannya yang dilewati. Ia bertindak karena alasan yang ia akui sebagai miliknya. Namun jika manipulator sudah menentukan seluruh hal yang membuat tindakan itu jahat, menyebut pikiran tersebut “miliknya” hanya memberi tahu kita jalur tindakannya, bukan siapa yang menciptakan kerusakannya.

Tanggung jawab dalam kejahatan yang terjadi kemudian dapat tetap ada meski seseorang dibentuk sangat kuat oleh lingkungannya. Ia mungkin pernah membenarkan hasratnya, menolak koreksi, melatih kebiasaan buruk, atau masih cukup mampu mengenali dan menjawab apa yang benar sehingga ikut membentuk karakternya. Penyimpangan pertama tidak memiliki riwayat buruk sebelumnya. Jika suatu sebab yang tidak bersalah sudah menentukan alasan dan susunan jahatnya sebelum pelaku dapat menerima atau menolaknya, kemampuan menanggapi alasan saja tidak cukup untuk mendasari kesalahan pertama. Seorang kompatibilis boleh menolak contoh manipulator ini. Namun syarat DDF sekarang memiliki alasan: kesalahan berhenti ketika perbedaan yang melanggar kebenaran pertama kali menjadi karya pribadi, bukan ketika seseorang hanya menyatakan sesuatu yang sudah sepenuhnya ditentukan.

Batas Penjelasan Ini Bersifat Moral, Bukan Kemalasan

Pada titik ini seseorang akan berkata: Anda hanya berhenti menjelaskan.

Dalam satu arti, ya. DDF menyangkal bahwa sebab sebelumnya dapat lebih dahulu menentukan seluruh perbedaan antara kesetiaan dan pengkhianatan, sementara makhluk pertama tetap menjadi sumber yang patut dipersalahkan.

Namun ini bukan tempat berhenti yang dipilih sembarangan.

Andaikan kita menemukan suatu keadaan terdahulu yang lengkap dan menghasilkan niat tepat sebagai tindakan pengkhianatan ini. Keadaan itu mungkin berupa hasrat yang tidak tertahankan, manipulator, program sosial, kuasa jahat, atau ketetapan ilahi. Jika keadaan itu sudah memasok seluruh tatanan moral yang cacat, ia sudah menghasilkan hal yang membuat tindakan tersebut patut dipersalahkan.

Kita tidak menjelaskan tanggung jawab.

Kita justru menjelaskannya sampai lenyap.

DDF masih dapat mengenali hampir segala sesuatu yang mengelilingi tindakan itu: kebaikan yang diinginkan, alasan yang dipertimbangkan, godaan, kemampuan makhluk untuk berubah, pilihan yang tersedia, sejarah perhatian, harga perlawanan, tindakan, dan akibatnya. DDF hanya menolak satu hal: keadaan terdahulu yang cukup untuk menghasilkan cacat tepat sebagai cacat yang patut dipersalahkan, sementara kesalahan entah bagaimana tetap berada di hilir.

Sumbernya harus berhenti pada pribadi ketika cacat itu benar-benar menjadi pekerjaannya.

Itu tidak berarti pilihan tersebut terjadi secara acak. Keacakan juga tidak menghasilkan tanggung jawab. Artinya, seseorang dapat bertindak karena alasan tanpa dapat direduksi menjadi mekanisme sebelumnya yang sudah melakukan pekerjaan moral yang menentukan.

Mengapa Hal Ini Penting Setelah Kejahatan Pertama

Argumen ini berbicara tentang asal-usul, tetapi akibatnya langsung menyentuh kehidupan kita.

Artinya, penjelasan semestinya membuat tanggung jawab lebih tepat, bukan otomatis menghapusnya. Trauma, paksaan, ketidaktahuan, kecanduan, tahap perkembangan, kebiasaan, tekanan sosial, dan manipulasi sungguh dapat mengurangi atau mengalihkan kesalahan. Kadang-kadang kemampuan seseorang untuk sungguh bertindak memang telah disingkirkan. Kadang-kadang pelaku lain atau sebuah sistem memikul tanggung jawab jauh lebih besar daripada orang yang tampak bertindak.

Artinya juga, sejarah sebab-akibat tidak membuat kebebasan kita menjadi palsu. Setelah kerusakan hadir, ia membentuk orang. Namun orang yang sudah terbentuk masih dapat memperhatikan, mempertimbangkan, mencari pertolongan, melawan, menyetujui, mengaku, memperbaiki, dan ikut mengubah lingkungan yang membentuknya. Tanggung jawab menjadi sebanding dengan keadaan, bukan sekadar ada atau tidak ada.

Dan artinya, anugerah tidak perlu menyelamatkan dengan menggantikan orangnya. Roh dapat menyembuhkan perhatian, hasrat, kemampuan, relasi, dan kebebasan sehingga seseorang bertindak lebih benar tanpa menjadi kurang dirinya sendiri. Pembebasan dari perbudakan bukan penghancuran kemampuan untuk bertindak. Justru kemampuan itu dipulihkan agar kembali dapat meraih kebaikan.

Kesalahan Harus Berhenti di Tempat Cacat Bermula

Tidak ada esai singkat yang dapat menyelesaikan setiap perdebatan tentang kebebasan, pemeliharaan ilahi, predestinasi, atau psikologi pilihan.

Klaim DDF lebih sempit dan sengaja terbuka untuk diperdebatkan.

Segala sesuatu yang positif dalam diri si pendosa ada melalui Logos yang personal. Logos bukan pengamat yang menunggu di luar tatanan sebab-akibat. Namun Sang Anak yang menopang makhluk tidak menjadi pencipta moral dari penolakan makhluk—ketiadaan relasi baik yang seharusnya ada. Kemampuan makhluk untuk bertindak tetap bergantung kepada Allah tanpa menjadi semu.

Kejahatan pertama tidak membutuhkan zat jahat, rancangan buruk, kuasa yang tidak diciptakan, atau Allah yang sesaat meninggalkan alam semesta. Yang dibutuhkan hanyalah pribadi baik yang dapat berubah dan dengan bersalah menata suatu kebaikan nyata secara keliru.

Meminta sebab lain yang sudah cukup menentukan susunan yang salah itu berarti mengganti pokok persoalan. Apa pun yang sepenuhnya memasok tindakan tersebut sebagai tindakan tercela menjadi sumber yang patut dipersalahkan.

Itulah batasnya: jika kejahatan dijelaskan sampai ke pangkalnya, kita menyalahkan orang yang salah.

---

Penanda historis: Agustinus, [City of God XII.6–7](https://www.newadvent.org/fathers/120112.htm), menggambarkan kehendak jahat pertama melalui sebab yang berkekurangan, bukan sebab efisien tandingan. Tobias Hoffmann membandingkan Agustinus, Thomas Aquinas, dan Duns Scotus dalam [“Augustine, Thomas Aquinas, and Duns Scotus on the First Cause of Moral Evil”](https://doi.org/10.1484/j.quaestio.5.133419) (2023). Kedua sumber itu tidak membuktikan premis DDF bahwa kemampuan pribadi untuk bertindak tidak boleh disisihkan. Langkah DDF yang khas dan terbuka untuk diperdebatkan adalah menghubungkan gagasan privatio boni dengan tindakan Allah dan makhluk yang tidak setara serta sumber kerusakan yang sungguh berada dalam diri makhluk.